yes, we are entrepreneurs (1)

Sejak kelas 1 SMA, saya bermimpi memiliki perusahaan jasa pembungkusan kado seperti KADOKITA, pusat gift wrapping yang terkenal di Jogja. Memberi kado itu memberikan efek positif bagi saya. Bahagiaa sekali rasanya. Cuman sayangnya duit ga selalu ada. nyehehe. Saya ingat sekali waktu itu, pernah saya mendapat uang 70ribu hadiah lomba essay pelajar. Semuanya habis dalam waktu sehari untuk membelikan kado kawan2 saya. Tapi masyaallah efeknya bagi saya. Bungkusnya saya hias sedemikian rupa sehingga…

Waktu berganti, tiba2 saya sudah duduk di kelas kewirausahaan, Marketing Management UGM. O’o, saya menuliskan business plan untuk perusahaan yang saya impikan itu. Tahun berganti, dan saya sadar betul bahwa saya sedang mengikuti kelas matakuliah kewirausahaan di Pendidikan Akuntansi UNY. Lagi2 saya menuliskan hal yang sama! eh, rada beda ding. Kali itu saya menuliskan bahwa kelak perusahaan saya adalah perusahaan keluarga, bukan lagi perseorangan. Perusahaan itu akan dimiliki oleh Nyonya Sarah, Tuan Sarah, dan keempat anaknya =.=

Allah yang Maha Bijaksana, mempertemukan saya dengan 2 kawan yang ndilalah punya hobi yang sama. Fitri dan Anton. Jadilah kami bersatu padu membuat usaha bernama BEE creative. Karena si anton sedang terkena virus 4l4y, dia menyusulkan penulisan nama perusahaan kita sebagai berikut : BEE cr34tive =.=’ Anton ini paling jago diantara kami. Tapi kami juga tak mau kalah. Masak saya & fitri yg wanita tulen kalah gemulai sama dia ><

Lalu datanglah kesempatan saya utk nguping diklat kewirausahaannya disperindagkop selama 4 hari pekan lalu. Ijinkan saya berbagi beberapa yg aneh, wow, dan ndembik saja ya..

tentang Undang-Undang no 20 tahun 2008 tentang UMKM
Undang-undang ini memuat 11 BAB, 44 Pasal, juga 5 PP (peraturan pemerintah) yang anehnya sampai sekarang belum muncul juga. Padahal kan yang namanya PP dibikin dalam rangka mengatur implementasi UU. Jadinya ya sukak2 kali ya kalo ngurus UMKM. Polemik tentang XT (Ex-Terminal) Square saja sarat dengan politik kepentingan. Jadinya anda dan saya pelaku UMKM di jogja cukup kemecer saja lah ya kalo melihat megahnya tempat itu. Entah kapan mau diresmikan.

tentang Kewirausahaan
Kita tahu bahwa jumlah wirausahawan/wati di Indonesia masih jauh dari harapan. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah, dan Besar jika ditotal hanya 592.467 jiwa alias 0,24% dari total jumlah penduduk. Kalah jauh dengan singapura yang memang sejak merdeka mendesain negaranya menjadi negara entrepreneur. Wajar saja dalam hal ekonomi kita dijajah besar2an. Garam ngimpor, daging ngimpor, kedelai ngimpor, apa coba yang ga ngimpor? Coba kita tengok pusat penjualan kain, Thamrin City. Siapa yg sekarang dominan disana? Siapa lagi kalo bukan China. Jilbab2 macam jilbab paris yang kalo kita beli produksi Indonesia harganya 10-15ribu, sana bs jual 6ribu saja =.= Tentu mereka lebih laris. AKhirnya kita orang cuman kebagian nge-sum pinggirnya.

Bicara tentang Thamr*n city, dahulu Mall ini diijinkan berdiri karena mendapat sambutan baik dari para pemilik UMKM dan pemerintah karena didesain sebagai show room hasil karya UMKM seluruh Indonesya. Tapi bagaimana nasibnya sekarang? Semula mereka mendapat lapak gratis dengan berbagai sarana yang memadai. Sampai pada akhirnya pengusaha2 kaya datang dan membeli lapak mereka dengan iming2 harga yang tinggi. Mereka juga dijanjikan akan jadi pegawai disitu. Alhasil beralihlah profesi mereka yang semula pemilik menjadi pegawai. Lalu ketika para pengusaha itu berniat mengurangi pegawai dalam rangka efisiensi, maka didepaklah mereka dari tempat mereka semula. Ohh, indonesia deritanya tiada akhir. Apa sebab? Metal wirausaha itu lhooo yang sebenarnya hilang dari diri kita.. -termasuk saya 😦 Diiming2i duit selangit aja langsung tepar. Padahal kalo berpikir jangka panjang, tidak akan seperti itu kejadiannya

Di training ini saya bertemu dengan pembicara dari APIKRI, LSM yang concern mendampingi UKM Kerajinan. Mereka menjual produk2 pengrajin mbantul ke fair trade. WIKI said, fair trade is an organized social movement and market-based approach that aims to help producers in developing countries to make better trading conditions and promote sustainability. Jargon mereka We don’t sell a product, but all things beyond a product! Saya mlongo saat melihat produk yang mereka jual. Tidak sekedar keunikan yang mereka jual, tetapi pesan go green sangat kental disana. Misalnya saat APIKRI mengetahui sebuah informasi bahwa orang luar negeri yang jarang mengurung burung peliharaannya di dalam sangkar. Mereka menggali kreatifitas bersama pengrajin binaannya dan mengubah sampah kelapa yang bolong bekas kroakan bajing menjadi sangkar burung. Tepatnya,tempat mencok burung. Going green jobs banget pokoke. Menciptakan environment friendly dan menekan limbah yang unrenewale. Sampai disini saya memutar otak untuk bisa mengikuti jejak APIKRI dan mumet dewe, haha

to be continued..

Advertisements