Da’i. Predikat yang notabene disandang oleh seorang remaja, seperti saya dan anda. Masih ada 2 predikat lagi sebenarnya. The agent of change dan iron stock. Wuih. Keren ya. Berbagai training dan seminar mengajak kita menyandang dan benar-benar mewujudkan predikat tersebut, kalau kita ingin menjadi bagian dari solusi atas seabrek problematika ummat. Yap, menjadi mentor salah satunya. Pernahkah terlintas dalam pikiran antum, Apa harus sekarang menjadi seorang mentor? Kenapa harus kita? Setahun yang lalu pertanyaan-pertanyaan seperti itu pernah hinggap dalam benak. Rentetan dauroh dan majelis berusaha memuaskan kita dengan jawaban-jawabannya. Akhirnya memang termotifasi untuk bergerak. Tawaran untuk menjadi seorang calon murobi disanggupi. Tapi… adaa saja hal yang memunculkan keraguan. Bisakah saya? Sanggupkah saya? Pantaskah saya?
Tak disangka setelah menyatakan kesediaan menjadi calon murabiyah, adaa saja yang melumpuhkan, bahkan meluluhlantakkan semangat saya untuk membina mad’u sekaligus membina diri sendiri.
Bagaimana tidak?! Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SMA. Di siang yang sedikit melelahkan. Saya dan 5 adek binaan saya menunaikan forum pekanan yang genap sebulan intensif dijalankan. Di sekolah saya, forum-forum seperti itu masih jarang ditemui. Kebanyakan kajian rutin biasa dilakukan dimushola yang sedikit mojok. Ketika itu memang kewanen. Forum saya adakan di ruang kelas 1 yang kosong. Tepatnya hari sabtu. Hari yang populer dimanfaatkan untuk ekstra kulikuler dan les tambahan.
“Cari siapa Bu?” Tanya saya kepada guru matematika yang amat saya kenal ketika beliau membuka ruang kelas yang saya gunakan.
“Cari anak2 yang mau les matematika. Kok ga ada ya?” tanyanya spontan.
Karena beliau menyebutkan beberapa nama anak kelas1 yang akan ikut les, otomatis saya pun lingak-linguk berusaha menemukan salah satu adek yang namanya saya kenal. Yach, sebagai anak Rohis, kita harus bersikap baik pada guru kan. Tentu saja untuk tunjukkan citra yang baik pula. Terpaksa mentoring terhenti sebentar setelah saya menyampaikan beberapa point tentang ma’rifatud Dinnul Islam.
“Wah, kok nggak ada ya Bu. Mungkin masih pada jajan.” Kata saya dengan harapan besar semoga adek2 yang mau ikut les segera datang. Kalau tidak …
“Lha ini lagi ngapain mbak ***** ?” Tanya beliau. Duh, dugaan saya benar.
“hmm, lagi kajian Bu.” Jawab saya dengan tersenyum.
“Oo, jadi mbak ***** yang ngisi? Ya sudah, Ibu tak ikutan ndengerin ***** ngisi! Sekalian nunggu mereka datang” kata beliau dengan nyantai. Wah, dugaan saya benar2 tepat. Dan itu yang tidak saya harapkan.
Ketika belajar menjadi mentor, satu kendala besar yang saya derita adalah kemampuan public speaking yang kurang baik. Kendala ini melahirkan banyak masalah seperti kurang Pede, gugup, ndredeg, ketakutan tidak bisa bertanggung jawab, dan seabrek kekurangan yang idealitanya tidak dimiliki oleh calon murobi. Itu saja muncul ketika saya menghadapi adek2. Lha ini kasusnya berhadapan dengan guru yang setau saya punya segudang ilmu agama yang telah didalaminya beberapa tahun setelah beliau memutuskan untuk menjadi mu’alaf. Kata mentor senior yang sudah jadi murobi, ketidakpede-an kita muncul karena kita kurang ilmu dan kurang persiapan. Tapi ketidakPedean saya kali ini lain. Masak seorang guru ikut mentoring dengan saya yang masih kurang ilmu?! Hormon saya memacu jantung berdegup lebih kencang.
Setelah menghela nafas panjang, saya teringat kata-kata dalam buku Rich Dad Poor Dad-nya Robert T Kiyosaki. Kurang lebih begini. “Ayah saya yang kaya mengajarkan saya_Robert_ untuk mencintai resiko. Orang akan menjadi kaya ketika dia bisa mengubah resiko yang menyeramkan menjadi peluang yang mengasyikkan. Sedangkan ayah saya yang miskin menyarankan agar saya mencari zona nyaman walau hanya dengan sedikit pendapatan. Ayah yang miskin bilang, kita harus bekerja untuk uang. Tapi kata ayah yang kaya, orang kaya tidak bekerja untuk uang, tapi uang lah yang bekerja untuknya”.
Yap. Akhirnya, dalam situasi itu saya pun memutuskan untuk lebih tenang. Mengubah ancaman dan resiko yang menyeramkan itu menjadi sebuah peluang yang akan membantu saya menyampaikan materi kepada adek2 binaan.
Bagaimana tidak menyeramkan?! Beberapa waktu lalu sebelum kejadian ini, ibu guru inilah yang sangat berjasa untuk pengadaan Outbond “sirriyah” 2005 yang saya adakan bersama aktifis Rohis yang terbilang nakal. Biasanya, kalau acara yang kami adakan tidak disetujui Kepala Sekolah dan pembina Rohis, jalan “sirriyah” lah yang kami gunakan. Secara otomatis, kami tidak mendapat bantuan dana. Kalau sudah begitu, terpaksa kami harus ngoyo biar dapat bantuan finansial. Saat itu lah kami mengamati Ibu guru matematika yang terlihat konsisten dengan Islam dan peduli dengan masalah ummat. Gaya inteligen pun mulai kami pakai. Setelah kami selidiki, ternyata guru saya yang satu ini punya kakak yang dia adalah seorang pengusaha persewaan bis. PDKT pun berjalan mulus. Berhasil pula usaha kami. Diskon gedhe untuk sewa transport menuju lokasi outbond kami dapatkan. Bahkan Ibu guru juga minta untuk ikut outbond bersama seluruh keluarganya. Ujung2nya beliau tanya, “Lha bu *******_pembina Rohis_ kok ga diajak? Berarti cuma ibu dong guru yang ikut diOutbond kalian?” Dari situlah kami mulai berkeluh kesah kepada beliau tentang masalah2 Rohis. Kami pun berterus terang kalau outbond yang akan kami adakan sebenarnya rahasia. Ternyata beliau memahami dan bersedia membantu menyembunyikan acara sirriyah yang akan kami adakan itu. Beliau malah menceritakan tentang ketidakcocokannya dengan pembina Rohis. Usut punya usut, ternyata Ibu ini berada dalam jama’ah&harokah yang berbeda dengan kami yang IM ini. Beliau juga liqo’, sama seperti kami. Tapi metode mereka berbeda. Ibu ini punya Al Qur’an yang antar lariknya punya spaci yang cukup lebar. Kitab2nya banyak dan macem2. Tempat sholat beliau pun tidak sembarangan. Begini pula masjid tempat beliau sholat. Tidak waton masjid.
Awalnya, kami yang mendekati beliau. Tapi lama kelamaan beliau lah yang seakan-akan mendekati kami. Kaya’ kita kalo lagi ngerekrut gitu. Beliau menawarkan untuk ikut kajiannya. Karena pikiran kami sudah negatif, jadi kami selalu menolaknya. Bilang juga kalo kita udah ngaji ditiap pekannya.
Nah, inilah yang memunculkan ketakutan saya saat itu. Sebelumnya saya sudah membayangkan akan ada pertujukan berbicara dan tarung pendapat antara saya dengan guru saya itu di depan adek2 binaan saya. Dan bayangan itu menjadi kenyataan…
Siang itu, saya berusaha memantik beliau agar menceritakan pengalamannya sebelum hijrah dulu. Ternyata beliau adalah anak dari keluarga yang kuat katholik-nya. Bahkan Ayahnya adalah penyandang dana sebuah gereja di Tasikmalaya, kota kelahirannya. Seabrek aktifitas sekolah minggu beliau saat remaja juga diceritakan. Beliau sempat Agnostic. Terancam keluar dari sekolahnya karena selalu menentang pendapat guru tentang agama2 lain yang menurutnya tidak sesuai. Maklum, sekolahnya adalah sekolah swasta katholik layaknya Bopkri atau Steladuce. Pendek cerita, beliau menemukan Islam sebagai agama yang menakjubkan. Beliau pun memutuskan untuk menjadi mu’alaf, meksi dg diam-diam. Setelah lulus, beliau putuskan untuk kuliah di Jogja, agar lebih aman dalam belajar dan menunaikan ibadah sesuai Qur’an dan Sunnah.
Sampai disini usaha saya cukup berhasil. Walau kita beda harokah dan pemahaman, aqidah kita tetap sama. Dan bicara tentang aqidah adalah sesuatu yang tepat saat itu. Sesuai pula dengan materi yang sebelumnya saya sampaikan, Ma’rifatud Dinnul Islam.
Tapi… ketegangan mulai muncul ketika giliran saya yang berbicara dalam forum mentoring itu. Saya mengemukakan tentang kisah seorang oceanografer, Mr Jacques Yves Costeau. Buku penduan mentoring SMA1 lah yang menjadi referensinya. Saya bercerita tentang kekaguman seorang ilmuwan non-Islam terhadap Al Qur’an ketika menemukan QS Ar Rahman ayat 19-20 menjadi jawaban atas kegalauannya. Temuan tentang membran pemisah antara dua air laut yang berbeda dalam Al Qur’an sungguh luar biasa.
Adek2 pun terkesima. Tapi, beda dengan guru matematika saya ini.
“*****, ini bukan kajian namanya! Ini tausiyah. Yang namanya kajian itu didepan kita ada kitab, kemudian mengartikan satu per satu dan menjelaskan apa arti kandungan maknanya secara sistematis dan terperinci.” Kata beliau memutus penjelasan saya tentang kisah Mr Costeau. “Duh, mulai membicarakan hal yang furu’ nih”, kata saya dalam hati. Beliau menjelaskan semua metode yang biasa beliau lakukan dalam mengikuti kajian dengan panjang lebar. Memang benar, ketika orang Tasikmalaya cerita, bakalan sulit diputusnya. Saya hanya bisa mendengarkan, tanpa bisa menjelaskan bagaimana metode saya dalam mentoring. “Intinya bu?” sela saya memutus pembicaraan.
“Intinya, ***** belum pantas menyampaikan ini di depan adek-adek. ***** harus belajar banyak dulu tentang ilmu agama, baru boleh mengisi forum seperti ini.” Jelas beliau.
“Lho, bukannya Islam memerintahkan … sampaikan walau satu ayat?!” bantah saya.
“Memang, tapi itu ada waktunya! Bukan sekarang!” jawabnya
“Trus, kapan dong Bu? Menunggu sampai generasi muda kita rusak baru membenahinya setelah saya selesai belajar?” saya terus membantah.
“***** boleh mengisi forum seperti ini ketika ***** yakin bisa menyelamatkan diri sendiri dari api neraka! Jika ….. bla…bla…bla…” Ibu guru terus saja menjelaskan. Saya usahakan sekuat tenaga untuk tetap tenang dan tidak nampak kebingungan di depan adek binaan saya. Menggunakan gesture dan nada ucapan “ya” adalah cara paling bijak saat itu.
Buanyak pertanyaan pun dilontarkan. Tepatnya saya dites, seperti ujian pendadaran.
“Apa ***** sudah qiyamullail tiap hari? Apa sudah infaq tiap hari? Apa bedanya Infaq dengan shodakoh?” …
Kategori Yes No questions saya jawab dengan lancar dan memuaskan. Kelas 3 adalah masa2 paling hebat ibadahnya. Untuk pertanyaan kedua, beruntung sekali saya juga punya sunduquna juyyubuna. Jadi bisa infaq tiap hari. Nha, giliran pertanyaan ketiga…walau bisa saya jawab, tetap saja pake’ mikir.
Bertanya. Saya jawab. Bertanya. Saya jawab. Dst… Sepertinya adek2 binaan bukan sedang ikut mentoring melainkan menyaksikan pertunjukan bulu tangkis.
Di forum itu seolah-olah saya adalah seorang terdakwa yang sedang di usut kasusnya oleh seorang hakim dan ditonton oleh banyak orang. Sepertinya saya adalah orang yang paling bersalah. Tapi itu bukan masalah. Yang menurut saya lebih gawat adalah ekspresi adek2 yang terlihat bingung. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Entah apa yang harus saya jelaskan tentang perdebatan ini. 45 menit berlalu, Ibu guru tetap mendominasi pembicaraan. Kelegaan saya muncul ketika siswa2 peserta les matematika datang dan Ibu guru pun memulai kata pamitan. Alhamdulillah…
Usai perdebaan itu, saya meminta tanggapan dari adek2. Takut sekali kehilangan kepercayaan mereka setelah sekian lama saya bina. Spontan saya jelaskan pula tentang perbedaan pendapat dan harokah dalam Islam sesuai kapasitas mereka. Forum saya akhiri.
Banyak hikmah yang saya dapat setiap kali membina. Kejadian tadi hanya sekelumit saja. Memang cobaan Allah datang mengejutkan, tapi mendewasakan. Ternyata dalam satu waktu, forum mentoring saya dapet banyak ilmu. Ga cuma ngomong doang tentang indahnya Islam, tapi juga dapet pembuktian dari seorang mu’alaf. Ga hanya bahas Islam di permukaan tapi juga sampai mendalam. Subhanallah… Tarbiyah sungguh indah.
Entah apa tindakan dan jawaban yang tepat ketika harus menghadapi kejadian serupa suatu saat nanti. Yang penting adalah terus belajar, belajar dan belajar. Sepakat teman?!
Semoga bermanfaat. Nama dan TKP harap disamarkan. Jika ada kesamaan kisah dan hikmah itu karena skenario Allah semata.
Mantrijeron, September 2005
Recent Comments