Judul diatas adalah bakal calon judul novel bagian ketiga dari Trilogi Negeri 5 Menara (tapi bo’ong :p). Berhubung si empunya karya tak kunjung menerbitkan novel ketiganya, disini penulis mencoba membayangkan kelanjutan cerita menurut versinya. Tetapi tokoh utamanya bukan lagi Alif. Melainkan Sarah, anak ustadz Khalid yg membuat Alif harus berjuang keras meski sekedar untuk bicara dengannya
si sarah ini ceritanya lagi dapet kesempatan fieldwork (baca: jadi TKW) di sebuah kampus yang penulis lebih suka menyebutnya kampung, bernama King Abdullah University of Science and Technology (KAUST). Sependek pengetahuan penulis yang sama sekali tiada mendapat ospek layaknya mahasiswa KAUST, beginilah kesannya tentang kampung di tepian laut merah itu, kampungs 4 warna..
Malam pergantian bulan diatas langit riyadh, Sarah mencoba menenangkan diri. Ia gugup. Sedari Jakarta, memang ia sudah gugup. Ini baru kali kedua ia naik pesawat. penerbangan internasional. dan, sen di ri an. Hal yang tidak tidak terlintas dalam benak. Ia berdoa agar tidak mengalami sesuatu semacam yg dialami Chiaki Shinichi dalam serial drama Nodame Cantabile.
”Allah bersamaku..Allah bersamaku..” Sembari berdzikir, ia melongok apa yang ada dibawah besi terbang SV 817. MashaAllah, Riyadh bagaikan gugusan bintang. ya, ini bukan taburan bintang seperti yang dilihatnya dulu saat turun dari Dlingo naik Adil Air bersama norma, zaza, dan kawan2 karibnya. Jogja dipandang dari SouthMountain, terlihat seperti bintang tak beraturan. Sementara yang ia pandang saat itu, gugusan bintang berbentuk kotak2. Ada yang melengkung dibagian pinggirnya. Apakah ini efek tata kota yang baik? Ah, tak tau lah. Sarah terus berpikir bagaimana nantinya bisa mengalokasikan waktu 1,5jam untuk bisa turun, antri diloket kedatangan, ke bagian imigrasi, ambil bagasi, ke pintu keberangkatan lg, dan boarding, melanjutkan penerbangan lokal ke jeddah.
Alhamdulillah.. ia menghembuskan nafas lega. dengan rada mbrambangi, ia menemui juragannya dipintu kedatangan bandara King Abdul Aziz Jeddah. ”aku mau ditulungi porter, gan. bapake apikan. aku mbayar 40 riyal, daripada ketinggalan pesawat” katanya pada sang juragan. Sarah begitu bersyukur mengikuti saran ibu agar membawa uang real meski tadinya ia sanksi, bawa ga ya bawa ga ya, buat apa juga kalo bawa..
***
”yeiy, finally!” Sarah mengalungkan ID yang baru didapatnya. ID berlaku semacam SIM ketika berkendara. Ia semacam KTP untuk masuk ke tempat2 umum, semacam koin kalo naik bus, dan semacam password untuk bisa masuk KAUST sekembalinya dari pusat kota jeddah, makkah, atau kota lain. Jangan harap bisa masuk KAUST dengan mudah jika ID tertinggal. Security is everybody’s responsibility.
Tidak semua orang bisa mendapat ID. Artinya tidak semua orang bisa menikmati fasilitas yang ada di kampung seluas 3 kecamatan itu ~kira2 gabungan antara kecamatan mantrijeron, kraton, dan mergangsan-. Jika ada musafir datang, fardhu kudu mampir ke visitor office, sebuah gedung diantara 2 gerbang utama. Setiap yang datang ke visitor office akan disambut empat batu besar warna warni yang merapat melingkar di depan gedung. Hijau toska, biru, orange, dan kuning. Visitors akan mendapat kartu berkunjung yang hanya berlaku 3 hari 3 malam. Ini persis seperti rukhsoh bagi musafir yang terdapat dalam hadits nabi ”Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan tiga hari tiga malam bagi musafir…”
Beruntung si juragan tinggal di apartemen keluarga. kalo si juragan masih single, pasti repot sekali. apa pasal? Meski kampung ini menerapkan hukum internasional ~bukan hukum adat milik arab- apartemen milik para bujang tiada boleh dimasuki perempuan, sekalipun perempuan itu adalah ibu atau adiknya sendiri. Setiap apartemen punya penjaga yang gemar berpatroli, terlebih saat musim wisuda seperti sekarang ini. Para mahasiswi yang mengundang orangtuanya untuk menghadiri wisuda juga terpaksa menitipkan ayah di apartemen teman mahasiswanya yang mungkin jauh dari apartemennya sendiri. Terkecuali mahasiswa nakal yang menyelundupkan ayah ibunya dirumah dan memilih kucing-kucingan dengan petugas.
Sepulang dari ID center, ia taruh kartu ajaib itu dimeja sudut. Ia pandangi sebentar. ”sepertinya aku tidak akan banyak keluar rumah dan menggunakannya seminggu ke depan”, batin sarah dalam hati. Ia menjelajahi apartemen sepetak milik juragan. Ruang keluarga, ruang makan, toilet dan dapur terletak segaris. Berhenti lama ia di dapur. Kitchen set yang begitu lengkap. ”kompor & kawan2, kalian akan menjadi partner kerjaku. bersiaplah!” sarah berkata penuh semangat. Di dekat toilet ada mesin cuci segedhe gaban. ”Kau juga akan bekerja keras, kawan!” katanya pada kotak putih dua pintu. Lalu ia mendangak. Lantai atas dibuat lebih pendek dari lantai bawah. Kalo si juragan lagi mantengin laptop dimeja belajar lantai atas, ia bisa ingak inguk ruang keluarga. Ia bisa setiap saat memastikan bahwa sarah benar-benar bekerja, tidak menonton TV kabel atau bermain XBOX di ruang nyaman itu. Ya, ini minggu2 sibuk bagi pak juragan dan bu juragan. Proyek dan ujian akhir semester membuat mereka harus bekerja ekstra keras. Betapa tidak. Di KAUST kalo dapet IPK dibawah 3, so pasti akan dideportasi. Awal Desember itu benar-benar menjadi hari sibuk seisi apartemen. Pun Fatih si bos kecil, ia juga sibuk dengan kempengannya.
***
Hari demi hari berlalu. Dan hari itu sudah sepenggalah matahari. Setelah menyelesaikan urusan domestik, sarah menyiapkan kereta dorong untuk bos kecil. Di usia yang masih 5 bulan, sinar matahari pagi sangat penting baginya. Winter membuat udara di kampung itu menjadi dingin meski matahari menjelang terik. Sarah tak berani membawa Fatih keluar terlalu lama. Mereka hanya berkeliling satu komplek apartemennya saja.
Beberapa langkah sebelum sampai apartemen juragan, Sarah berhenti sejenak. Ia berdecak kagum melihat betapa itqon-nya bapak2 petugas kebersihan bekerja. Sepertinya mereka disini punya kasta. Petugas dengan kasta terendah memakai baju hijau, mengambil sampah dengan tangan dan kantong plastiknya. Kasta selanjutnya berkendara dengan sepeda, ada semacam tong sampah di belakang jok. Kasta yang lebih tinggi mengendarai semacam motor tossa. Yang lebih tinggi lagi membawa mobil pick up ukuran kecil berisi 3 tong sampah : organic, non organic, & waste. Yang tertinggi mengendarai truck besar. Adapula yang bertugas memelihara taman. Sarah paling suka melihat mereka yang sedang menyiangi tanaman. Mengumpulkan daun-daun kering berjatuhan. Dan paling gemes sama petugas kasta terendah. Ia tetap saja mondar mandir mencari sampah, padahal jalanan sudah sangat bersih. Tak ada secuil pun sampah. Sarah berpikir ”apa perlu aku buang botol pepsi di jalan biar si petugas senang berhasil memungut sampah?” Dasar sarah, baka.
Siangnya sarah berkesempatan memasuki kawasan kampus. Si juragan berbaik hati menraktirnya makan siang. Lamat-lamat ia melihat taman didepan kampus, tepian taman ditata batu kristal berwarna hijau toska. Pelan-pelan ia berjalan menuju dining hall dengan mata yang tetap tertuju pada kolam besar berisi batu kristal warna-warni, dominan biru tua dan kuning kecoklatan. Cantik sekali. Konon katanya diwaktu tertentu kolam ini dikuras dan batunya dikosek satu2. hedew
Di jalan menuju dining hall terpampang beberapa pengumuman. Tentang pemilihan presiden BEM KM KAUST, winter camp, juga kampanye lingkungan. Yang terakhir ini yang paling hot. Eat just what you need. Jargon kampanye itu nampaknya berusaha menghantui setiap yang datang. Ya, sisa makanan jelas akan menambah volume sampah. great campaign! Sarah mengingat satu ayat yang pernah dibacanya. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al A’raaf: 31)
***
Jantung sarah cenat cenut. Mimpinya akan segera terwujud. Ia lirih mengucap, bismillah.. wassolaatuwassalamu’ala rosulillah.. allahummaghfirli dzunubi waftahli abwaba rohmatik. Buru-buru ia melepas sandal. Masjidil haram tak terlalu ramai tetapi bising. Suara mesin-mesin kontruksi raksasa saling bersahutan. Kerajaan Saudi Arabia memang sedang melakukan perluasan terbesar sepanjang sejarah masjidil haram ke arah barat laut dan timur laut. Biaya yang dihabiskan saja mencapai 40milyar riyal ~jika kurs SAR/IDR=2.375 berarti setara dengan 95trilyun rupiah-
Sarah mempercepat langkah karena Isya’ segera tiba. Ia berpapasan dengan madam madam berabaya hitam dan bercadar. Ada yang menggandeng 3, 4, 5 anak. Yang balita sangat amat unyu kayak boneka. Timbul kenginan sarah untuk menculik dan membawanya pulang untuk oleh-oleh. Tetapi hey, ini tanah haram! Bicarapun tak boleh sembarang. Ia ingat ibunya pernah cerita, dulu ibu pernah kesini dan kaki ibu mendadak kram saat hendak naik ke jabal rohmah seketika setelah hatinya berkata ”ah, jabal rohmah tingginya tak seberapa”. Mungkin ada sedikit riya’ di hatinya.
Dengan jantung yang masih cenut-cenut, jarak dari pintu sampai tengah masjid berasa sejauh jogja-klaten. Sarah sudah tidak sabar. Langkahnya terhenti sebelum berjalan menuju tempat sholat di belakang maqom ibrohim. ”Allah, aku melihat ka’bah!” ada yang meleleh dipipi. Perjalanan ke tempat ini adalah penantian panjang. Haji dan umroh adalah panggilan Allah. Jika perjalanan kesana begitu tersendat, mungkin ada amalan wajib atau sunnah yang terlewat. Mungkin ada dosa yang menjadi penghalang. Mungkin riya’ di hati yang menjadi pengganjal. Mungkin juga azzam yang belum digenapkan.
Tiga hari berturut-turut sarah menikmati perjumpaannya dengan ka’bah, hajar aswad, hirj ismail, maqom ibrohim, shafa, marwah, dan air zamzam dimanamana. Ya, zamzam begitu melimpah. Jika wudhu batal, sedangkan jarak tempat wudhu dengan ka’bah jauhnya jogja-klaten (leb4y.com), maka air zamzam halal digunakan untuk wudhu. Dihari terakhir sarah dimasjidil haram, ia memandangi ka’bah lebih lama. Ka’bah dengan background Makkah Royal Clock Tower begitu indah. Ia pandangi langit diatas ka’bah. Sarah ingat kata seorang ustadz, ka’bah ini satu poros dengan ka’bah milik para malaikat, baitul ‘izzah namanya. Jika ka’bah ada dibawah langit dunia, tentunya baitul ‘izzah ada ditingkatan langit diatasnya. Wallahu ‘alam.
***
4 hari terakhir berada di kampung KAUST, sarah sudah terima gaji dari sang juragan. Betapa senang hatinya. Apalagi bu juragan dan momongan sudah pulang duluan ke kampung halaman. Sore setelah terima gaji, Sarah berpikir ”juragan sibuk dengan kerjaan, momongan sudah pulang ke kampung halaman, gaji sudah ditangan, apa aku kabur saja ya..”. Maklum, ia belum sempat menikmati fasilitas Harbor Sport. Juga belum bermain ditepian pantai dan bernyanyi Youth Sweat Beautiful seperti di iklan pokari. Belum sempat main banana boat & belum masuk ke dalam Beacon, menara putih yang menjadi icon kampung itu. Malamnya ia merencanakan kabur dari juragan. Tetapi tiba-tiba si juragan mengeluarkan titah, ”kau akan membantuku di lab 3 hari kedepan”. Mukyaaa
Jadilah Sarah sebagai multipurpose nanny 3 hari itu. Tapi entah mengapa hari-hari berlalu begitu cepat. Perasaan Sarah campur aduk. Ia sempat mengalami apa yang tersebut dalam hukum Gossen I. Nampaknya dimanjakan dengan kemewahan kampus bak anak raja pun bisa bosen juga. Meski begitu ia ingin tinggal lebih lama. Ia masih ingin menanti bis tujuan Madinah yang disediakan gratis oleh universitas. Sayang bis yang ditunggu hanya beroperasi sebulan sekali, hari kamis pekan pertama. Bis tujuan makkah juga selalu tersedia diakhir pekan, hari kamis dan jumat. Bagaimana tidak kerasan 0_0
Sarah harus menghadapi kenyataan bahwa esok hari SV 1400 siap membawanya pulang. Ia bergegas memacu motor matic hijau dengan kecepatan tertinggi versi matic saudi (60km/jam). Ia menuju laut. Sesampainya disana, ia berpamitan pada koloni bakau yang berwarna hijau, pada birunya laut, orange-nya senja, dan bulatan kuning matahari yang malu-malu tenggelam. Ia bermimpi ”aku akan kembali ke kampung 4 warna ini, dan tidak sendiri”


