ibu bagiku, adalah idola nomer 2 setelah nabi Muhammad. ia adalah ummi, sahabat, partner, konsultan, manager, ah banyak sekali peran beliau. baru tadi siang aku ditinggalnya pergi ke bandung, sekarang kangennyaa luar biasa. ini essay yg dibikin ibu sebelum berangkat, ini syarat mengikuti konferensi guru berprestasi tingkat nasional. diam2 kuambil dr foldernya dan kubaca2. dan rasanya.. aku makin semangat menjadi seorang guru!

Memperbincangkan Dua Rumah, nampaknya akan mengulas dua hal yang berbeda. Karena memang secara fungsi, masing-masing Rumah dibatasi oleh tempat dan tanggung jawab yang diembannya. Dan ada sekat diantara keduanya yakni sekolah sebagai tugas profesional sedang Rumah sebagai kewajiban asasi. Sekolah dan Rumah mempunyai keunikan dari segi karakter manusianya dan segi permasalahan yang dihadapi. Keunikan tersebut tidak identik memang, akan tetapi ada nuansa kental yang membuat perbedaan Dua Rumah tersebut saling melengkapi.

Berbicara Tentang Dua Karakter

Sekolah, beberapa peristiwa yang terjadi di Sekolah Dasar memang menyenangkan. Betapa tidak, menjalankan tugas ditemani anak-anak yang begitu polos dan wajah-wajah ceria yang tak berdosa, menjadikan bekerja tak terasa bosan. Sekolah merupakan tempat anak-anak belajar, bermain, mengembangkan bakat serta tempat membangun karakter.Siswa SDN tempat penulis mengabdi berjumlah 191 anak, yang terdiri dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda, ada dari keluarga KMS sampai dengan keluarga berada, serta dari siswa berkarakter sangat pendiam sampai hiper aktif. Keadaan demikian menjadikan penulis harus lebih bijaksana dan memiliki karakter kuat dalam setiap menuntaskan permasalahan yang terjadi di sekolah, bahkan hal tersebut penulis jadikan bahan penelitian dan pengalaman hidup yang sangat berharga. Selama tiga puluh satu tahun lebih sebelas bulan penulis menjadi Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah itu, tujuan penulis satu yakni mencari Ridha Allah dengan menyiapkan genarasi penerus menjadi generasi yang sholih dan sholihah.

Allah berfirman dalam surat An Nisa’ ayat 9 yang artinya :” Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan kerurunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya, oleh sebab itu handaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”.

Berdasar Qur’an diatas, penulis sebagai Ibu di sekolah itu, berusaha mewujudkan keberhasilan dalam pembangunan karakter mereka agar menjadi insan-insan mulia.Untuk mencapai keberhasilan di atas sangat dibutuhkan Model Keteladanan .

Dalam kaitannya dengan Model Keteladanan , JACKSON dalam penelitiannya mengatakan bahwa peranan dan perhatian guru terhadap siswa-siswanya memegang peranan penting dalam memajukan perkembangan anak , sedang HOTZER 1955 memperoleh hasil bahwa, metode guru dapat menjamin kemajuan perkembangan jiwa anak (Ahmadi Abu,Psikologi Sosial hal.269) . Melihat keberhasilan penelitian dua tokoh di atas, penulis mencoba menggunakan Mode Keteladanan sebagai metode pembelajaran.

Hasilnya? ………………………………………….Luar biasa

Ada satu peristiwa yang membuat penulis bangga menjadi Guru Agama Islam di SD yakni salah satu siswa kelas VI yang menderita kangker leher ganas memanggil-manggil nama penulis ketika dia sedang tidak sadarkan diri, dia bernama Eny dari keluarga sederhana.Ketika itu hari sudah hampir petang, badanku yang sehat tiba-tiba terasa sakit di bagian perutku, terasa ada sesuatu yang membuat sesak nafasku, sehingga aku segera dibawa ke Klinik Penyakit Dalam. Di Ruang Tunggu aku hampir mengatakan sesuatu kepada suami, bahwa aku sepertinya sudah tidak kuat lagi merasakan penyakitku yang datang dengan tiba-tiba, namun karena ingat kepada anak bungsuku yang baru berusia dua bulan, aku berusaha keras untuk kuat menghadapinya. Setelah aku masuk ke Ruang Dokter dan belum sampai diperiksa, penyakitku langsung hilang, aku sudah merasa sembuh walau tetap harus menebus obat di Apotek.

Sesampai di rumah sekitar jam 21.30, di Ruang Tamu sudah ditunggu oleh orang tua muridku yang sakit kangker ganas, yang juga didampingi oleh Ketua Rwnya sebagai saksi bahwa muridku yang sangat pendiam bernama Eny memang benar-benar sangat membutuhkan kehadiranku. Aku menjawab sambil memperlihatkan bungkusan obat yang ada ditangan, dan menerangkan bahwa saya baru dalam keadaan sakit, apalagi malam itu hujan deras , kenapa tidak dibawa ke Rumah Sakit saja, … tanyaku. Ibu itu menjawab , kalau memang aku sebagai guru rela muridnya meninggal tanpa mengabulkan permintaan terakhirnya …….ya sudah . Mendengar kata-kata itu, hatiku tergerak meninggalkan rumah, tanpa berfikir jam sudah menunjukkan angka 24.00. Aku mengambil air wudhu dan membawa Al Qur’an langsung berangkat , di perjalanan sayapun bingung harus berbuat apa?

Sesampai di rumah muridku, disana sebagian besar warga dan keluarganya sudah berkumpul menunggu kedatanganku. Melihat muridku tergeletak lemas, langsung aku peluk dan aku elus-elus dahinya sambil aku mambaca ayat Kursi. Belum selesai membaca, tiba-tiba muridku memanggil namaku sambil berkata: Bu ………………………..ayo kita shalat …….ayo bu……………..tuntun aku masuk surga ………………..dengan suara lantang penuh semangat. Akupun heran kenapa suaranya bisa lantang? Padahal setiap harinya bersuara sangat lembut tak terdengar . Setelah itu dia tertidur pulas sampai mendengkur, membuat orang-orang disekitarnya terheran-heran, karena sebelumnya , dia mampu mengalahkan empat orang laki-laki yang ingin menolongnya . Sebelum aku berpamitan, aku menyarankan tengah malam ini juga sebaiknya dibawa ke RS Sarjito, dan keluarga menyetujuinya. Ketika muridku kulepas dari pelukanku, tiba-tiba dia minta agar aku menemaninya. Sesuatu permintaan yang sangat berat bagi aku yang sedang sakit dan mempunyai bayi berusia dua bulan yang sejak sore belum sempat memberinya air susu. Sebelum berangkat aku minta ijin kepada sopir agar melewati rumahku, sehingga aku bisa menemani walau hanya sebentar.

Di atas, penulis sudah membicarakan tentang pentingnya karakter yang kuat untuk menghadapi berbagai masalah di sekolah, agar seorang Guru Pendidikan Agama Islam mampu menjadi teladan dan idola bagi siswanya. Namun pada kenyataannya…………………..Guru Pendidikan Agama Islam ……. juga manusia, punya kekurangan ……yakni ketidaksiapan mendengar sesuatu berita yang mengagetkan yaitu pada pagi harinya ada seorang nenek berusia sekitar tujuh puluh tahun menemui saya, dengan membawa bungkusan plastik hitam yang diberikan kepada saya, nenek itu mengucapkan terima kasih , karena saya telah mengobati cucunya yang tidak dinyatakan sakit oleh pihak Rumah Sakit Sarjito. Sambil mengulurkan tangannya, dia mengatakan bahwa ilmu saya tinggi, buktinya cucuku sembuh. Kupandangi nenek Eny sambil kuucapkan terima kasih, pada saat itulah keringat dinginku keluar, kedua tangan dan kakiku terasa sangat dingin, sehingga aku harus lari mengambil minyak gosok agar tidak pingsan.

Keadaan jiwa seperti di atas kerap sekali kualami, inilah kekuranganku ketika aku menjadi ibu dari anak-anakku di rumah. Kalau aku ingat-ingat penyebab kekuranganku itu adalah penderitaan yang kualami selama lebih kurang empat tahun, yaitu ketika anak sulungku lahir dengan keadaan jantung bocor. Ikhtiyar lahir batin telah aku lakukan , dengan memeriksakan setiap bulannya dan selalu ditangani tiga dokter spesialis. Bisa dibayangkan berapa uang yang harus disediakan untuk itu semua. Akhirnya Allah berkehendak lain , setelah berusia 3 tahun lebih 3 bulan anakku meninggal dunia, Innalillahi wainna ilaihi raaji’un. Sebulan kemudian anak keduaku masuk Rumah Sakit dan disusul aku sendiri yang harus istirahat di Rumah Sakit sebulan lamanya.

Tahun 1987 tepatnya pada bulan Desember Allah memberi kepercayaan kepada keluargaku dengan lahirnya anak perempuan. Pada titik paling rendah dalam kehidupanku Allah memberi kekuatan untuk menjalankan salat malam selama empat puluh hari berturut-turut, suatu anugerah yang paling indah dalam hidupku, sehingga aku menerima sesuatu yang luar biasa yang sangat saya cita-citakan yaitu : menjadi guru idola bagi siswaku , itu semua kata muridku yang bernama Eny yang sekarang sudah almarhumah, Innalillahi wainna ilaihi raaji’un. Di depan jenazah siswaku aku berdoa : Ya Allah ampunilah segala dosa Eny dan terimalah segala amal salihnya, tempatkanlah dia di tempat yang lebih indah jika dibandingkan ketika dia hidup di dunia, Amin.

Perbedaan Dua Fungsi Kerja Yang Saling Melengkapi

Fungsi Ibu di Sekolah

Guru dituntut memiliki 5 Kompetensi

Kompetensi Pedagogik
Kompetensi Kepribadian
Kompetensi Sosial
Kompetensi Profesional
Kompetensi Leadership

Sedang Fungsi Ibu di Rumah

Menjaga harta suami
Mendidik anak
Melayani suluruh anggota keluarga

Meski nampaknya fungsi Ibu di dua rumah sangat kontras, namun ada pelajaran yang dapat dipetik dari keduanya. Di Sekolah dapat membangun karakter dan mendidik dengan melihat latar belakang keluarga, karakter siswanya serta metode penyelesaiannya. Tugas kedua Rumah di atas dapat memperoleh keberhasilan yang maksimal jika bekerja didasari dengan rasa ikhlas dan dengan rasa kasih sayang yang tulus dari seorang ibu.

— masih ada lanjutannya tp dipotong sampe disini :)

Advertisement